Danau Purba

Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Dr. Helmy Murwanto, Candi Borobudur berdiri di atas bukit kecil berbetuan beku dan vulkanik yang sangat lapuk berumur tersier. Pada lingkungan di sekeliling bukit tersebut dijumpai dataran lakustrin bekas Danau Borobudur.

Bukti adanya danau purba ditunjukkan dengan data lapangan, seperti batuan lempung hitam dan batu lanau hitam yang banyak mengandung serbuk sari (pollen) dari tanaman komunitas rawa, fosil, serta gas rawa fosil yang tersebar di sekitar bukit Borobudur. Analisis pola aliran sungai juga menunjukan dinamika aliran sungai yang memusat menuju Danau Borobudur.


Sementara itu, dari hasil analisis radiokarbon C14 menunjukkan umur danau tersebut adalah sebelum Candi Borobudur di bangun dan sesudah di bangun. Perkembangan luasan danau serta palaeogografik daerah sekitar Candi Borobudur sangat dipengaruhi oleh endapan hasil aktivitas Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing serta pegunungan Menoreh.

Berdasarkan hasil penelitian luasan danau purba diketahui berkembang mulai umur 22.000 – 19.000 SM, 4.310 SM, dan 660 SM. Menurut Soekmono, cekungan di sekitar Candi Borobudur yang didukung dengan bentang alam yang indah dan suasana yang tenang menjadikan Candi Borobudur merupakan tempat ideal untuk belajar mengenal ajaran Buddha.


Namun demikian, suasana tenang dan indah tersebut hanya bisa dinikmati selaman 2 hingga 3 abad saja setelah Candi Borobudur di bangun. Hal ini karena pada waktu itu cekungan Borobudur dilanda bencana geologi berupa letusan gunung api muda yang didahului dengan gempa tektonik yang memicu letusan beruntun Gunung Merapi, Gunung Sumbing, dan Gunung Sindoro.

Sebagian besar material letusan berupa hujan abu lapili (tepra), maupun yang bersifat sekunder berupa banjir lahar dingin terendapkan di cekungan Borobudur. Akibat bencana tersebut lingkungan danau Borobudur lambat laun menjadi kering karena tertimbun material letusan gunung api muda yang mencapai 10 meter.

Entries Terkait